Padang luas itu masih mengepulkan sisa-sisa asap
pertempuran. Bau darah yang anyir membekas kuat,
seakan mengingatkan hadirnya mayat bergelimpangan yang
memenuhi tempat itu. Senjata, pedang berbagai ukuran,
anak-anak panah yang telah patah, topi-topi prajurit
berserakan, meminta dikembalikan kepada tuan-tuan
mereka, baik yang telah memperoleh kemenangan maupun
yang tinggal kenangan. Mati diterjang ujung senjata
lawan.
Sosok itu berdiri mematung di sisa-sisa senja.
Wajahnya dingin dan tak perduli. Panca inderanya sudah
mati. Ya, sudah mati! Betapa tidak? Anak lelaki
kebanggaannya, yang paling ia harapkan menjadi
penerusnya, kini harus bernasib sama dengan onggokan
tulang belulang di Kurusetra. Tubuhnya yang gagah,
hancur diterjang puluhan panah yang mengantar lelaki
muda itu menemui penciptanya.
Arjuna masih mematung. Sungguh, ia benar-benar telah
kehabisan air mata untuk mengungkapkan kesedihannya.
Perang ini tidak pernah ia kehendaki. Lelaki itu masih
lebih memilih menjadi pengelana hutan daripada
kehilangan semua anak-anaknya.Anak-anak dari berbagai
ibu, yang bahkan banyak di antara mereka yang tak
pernah merasakan asuhannya, tiba-tiba datang dan
menyatakan ingin membantu Pandawa memenangkan perang.
Masih segar dalam ingatan Arjuna masa kecil yang
terpatri begitu dalam di hati dan benaknya. Itulah
kebahagiaan sempurna yang bisa didapat seorang anak
tanpa ayah, dengan status putra raja yang tak kunjung
diberikan.
Ada sosok lain lagi yang berjalan mendekat. Tubuh
hitam kelam dengan pakaian kebesaran seorang raja.
Sengaja sosok itu berdiri agak jauh, mengamat-amati
saudara sepupunya yang sudah seperti adiknya sendiri,
bahkan lebih. “Menyesali perang ini lagi, adikku?”
Arjuna menoleh. Cepat-cepat ia berjalan mendekati
sosok titisan Batara Wisnu itu dan memberi
penghormatan. “Kalau saya berkata jujur, kanda. Tentu
saya tak ingin perang ini terjadi.”
“Dan membiarkan angkara murka berkuasa di muka bumi?”
Suara Kresna tetap tenang. Arjuna terdiam. Dia selalu
saja kehilangan segala kata-kata di depan tokoh yang
ia kagumi ini.
Sang Dananjaya menatap Prabu Kresna dengan ragu-ragu
dan berkata perlahan. “Kalau saja Bharatayudha tidak
terjadi, kita tidak akan kehilangan eyang Bisma, guru
Dhorna, anak-anak Pandawa dan ribuan prajurit yang
tidak berdosa.” Arjuna berkeras, masih berusaha
mendebat walaupun keyakinan di hatinya mulai goyah.
Kresna mendehem. “Apakah kau sadar bahwa perang ini
adalah takdir? Kita tidak akan pernah tahu apa maksud
sebenarnya peperangan ini. Bukankah kau mengaku
ksatria, Arjuna?! Mana tanda-tanda kesatriaanmu?
Apakah kau kira dengan pakaian senopati, membawa
senjata dan berkereta kuda, kau seorang ksatria?
Jangan buat malu para dewa yang sudah membekalimu
kesaktian selama ini!”
“Apakah membunuh itu dharma ksatria, Kanda?” Arjuna
mencoba mendebat lagi, melawan segala kesedihan yang
sudah menghancurkan hatinya. “Kau membunuh untuk
kebenaran. Dan segala yang terjadi pada perang ini
adalah jalan karma bagi setiap manusia. Resi Bhisma
sudah rela untuk memberikan nyawanya demi menebus
segala dosanya. Apa kau pikir kalau ia dibiarkan hidup
ia akan bahagia, Arjuna? Pergunakanlah otakmu! Jangan
memakai hatimu untuk menyelesaikan persoalan ini.”
Arjuna berlutut dan mengambil sepotong anak panah yang
telah patah. “Kanda, benarkah benda ini yang telah
mengantar anakku ke akhirat? Mungkinkah pasopatiku pun
akan kugunakan untuk cara yang sama? Mengantar
seseorang yang menjadi tumpuan harapan orang tuanya ke
alam baka?” Arjuna menggigit bibirnya. “Lebih baik
saya kembalikan saja pasopati ke Hyang Indra.”
Batara Kresna menghela nafas. “Ayolah adikku, kita
segera kembali ke perkemahan. Tak ada gunanya berdiam
terus disini dan menyalahkan dirimu sendiri.” Cepat
raja besar itu memutar tubuhnya dan meninggalkan sang
Dananjaya yang masih berdiri termangu-mangu di
keheningan Kurusetra, ditemani teriakan burung pemakan
bangkai yang siap berpesta pora.
***
“Ananda Kresna, bagaimana strategi yang paling tepat
untuk menyelesaikan perang ini? Korban semakin banyak
berjatuhan. Hari ini telah banyak pula yang mati. Dan
kita tidak tahu siapa yang akan menyusul besok. Eyang
sangat ingin perang ini segera diakhiri.” Prabu Wirata
itu terbatuk. Raut wajahnya yang memancarkan wibawa
dan kebijaksanaan tampak diliputi garis-garis
kesedihan yang mendalam.
Prabu Kresna menghaturkan sembah. “Sebaiknya kita
segera mengangkat senopati baru, Kakek Prabu. Hamba
dengar pihak Astina sudah siap mengangkat senopati
baru. Sebaiknya kita juga mengangkat senopati baru
sebagai tandingan.” Suara Kresna yang jelas dan bening
mengisi keheningan ruang pertemuan itu.
Di pintu masuk tampak Bima yang berdiri menjaga,
wajahnya diliputi kesedihan, yang hampir tak pernah
membayang sebelumnya. Arjuna hanya duduk
termangu-mangu, tidak mendengarkan. Para raja dan
sekutu mereka duduk dengan khidmat, sesekali berbicara
pada rekan di sebelahnya.
“Saya setuju dengan usul Anda, Batara Kresna.” Seorang
raja mengangkat tangannya dan berdiri untuk berbicara.
“Tapi siapakah senopati baru Astina, dan siapa
senopati tandingan dari pihak kita?” Batara Kresna
tersenyum puas, mengangkat sebelah tangannya untuk
memberi isyarat agar raja sahabat itu duduk, sementara
ia sendiri berdiri untuk menjawab. “Kakek Prabu
Matswapati dan hadirin sekalian yang saya hormati,
menurut pendapat saya, pihak Astina pasti akan
mengangkat Adipati Karna sebagai senopati agung, dan
lawannya tidak lain adalah adik saya, Arjuna!”
Suara Prabu Kresna yang lantang membuat Arjuna
terkesiap. Suasana ruang itu agak gaduh sejenak,
sementara Prabu Kresna tersenyum puas, senang akan
keputusannya barusan.
”Saya tidak bersedia, Kanda!” Suara Arjuna yang
biasanya lembut berubah keras dan gugup. “Kenapa
adikku? Jangan kau bilang kalau kau takut menghadapi
Karna.” Prabu Kresna tetap tenang. Sebaliknya, Arya
Werkudara yang memang tidak sabaran mulai naik darah.
“Jelamprong adikku, apa kau takut menghadapi Karna?
Ayolah, kau bukan anak kemarin sore yang masih harus
disusui ibunya!”
“Saya tidak takut, Kanda. Hanya… saya masih dalam
keadaan berkabung karena kematian Angkawijaya.
Sementara, saya tidak ingin berperang, apalagi
menghadapi Kanda Karna.” Wajah Arjuna yang tampan
memerah. Arya Werkudara menggeram. Mendung mulai
bergayut kembali di wajahnya. Teringat akan sang
Gatotkaca yang pergi mendahului ayah bundanya.
“Sudahlah, Arjuna, kalau kau tidak bersedia, kau boleh
pergi dan menenangkan diri sekarang. Kresna anakku,
siapkanlah senopati cadangan, kalau-kalau adikmu
benar-benar tidak bersedia menghadapi Karna.” Prabu
Matswapati menengahi. Ia tidak menginginkan suasana
memanas. “Baiklah Eyang, semua saya serahkan kepada
Eyang.” Kresna berkata hormat, sementara Arjuna
menghaturkan sembah dan lekas pergi, menyendiri, jauh
dari segala hiruk pikuk dentingan pedang dan desingan
panah.
Arjuna memasuki hutan rimba yang lebat di sisi
Kurusetra. Tubuhnya menggigil. Bukan karena takut,
karena bagi Arjuna hutan rimba yang lebat dan penuh
dengan setan, jin, iblis, genderuwo dan segala jenis
makhluk halus lainnya sudah seperti rumah keduanya. Ia
lebih sering bersama 4 punakawannya mondar-mandir
keluar masuk hutan daripada berada di Madukara.
Bayangan Karna berkelebat di depannya. Ah, dia bahkan
tidak tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya
kepada laki-laki itu. Rasa benci? Sayang kepada
saudara? Marah? Atau menyesali keputusan Karna untuk
membela pihak musuh?
Arjuna tetap merasa bahwa apapun pilihan Karna
bukanlah urusannya. Tapi lain akibatnya bila mereka
berdua harus berhadapan sebagai sesama senopati.
Arjuna merasa telah banyak mengalami kehilangan, dan
kehilangan Karna bukanlah pilihan terbaik yang ia
inginkan.
Bagaimanapun Karna adalah saudara seibu, yang sedari
kecil bahkan belum pernah merasakan belaian tangan dan
air susu Kunti, ibunya sendiri. Arjuna merasa ia jauh
lebih beruntung dari saudaranya itu, setidaknya dapat
merasakan indahnya masa kecil, yang diliputi kasih
sayang ibu dan saudara-saudaranya.
Masih segar dalam ingatan Arjuna, bagaimana Karna
dapat menyamai kepandaian memanah yang ia pamerkan
dalam adu ketangkasan antara Pandawa dan Kurawa ketika
mereka masih remaja dahulu. Dan bagaimana ia dan
kakaknya Bima telah menghina Karna dengan menyebutkan
keturunan putra dewa surya itu.
Memang, Karna adalah anak angkat kusir Adirata, tapi
apakah ia dan Bima pantas menghina lelaki itu? Arjuna
menutup wajahnya dengan kedua belah tangan, menahan
air matanya yang hendak menetes jatuh.
***
“Akhirnya kau datang juga adikku.” Bibir Karna
menyunggingkan seulas senyuman melihat sosok gagah di
atas kereta kuda yang dikusiri Prabu Kresna yang
agung. Hati Karna mendadak seperti ditoreh oleh
sebilah pisau tajam.
Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya melihat
adik yang nyaris tak pernah menghabiskan waktu bersama
dengannya tiba-tiba harus ia hadapi. Dan bahkan ia
musnahkan untuk mencapai kemenangan.
“Ya, ini saya, Kanda.” Arjuna berkata dengan kaku.
Suaranya bergetar. Prabu Kresna menoleh dan tersenyum
pada sang Palguna untuk menyemangatinya. Dengan lihai
titisan Wisnu itu memacu kuda-kudanya mendekati kereta
kuda Karna.
“Cepatlah kau lepas panahmu Arjuna! Makin cepat kau
lepas panahmu, makin cepat pula aku bisa menggunakan
panahku untuk mengakhiri hidupmu!” Karna berteriak
menantang, mencoba menandingi teriakan-teriakan dalam
hatinya sedari tadi. Kuda-kuda dari kereta yang
dikusiri mertuanya turut meringkik-ringkik, seakan
mendukung setiap perkataan penumpangnya.
Kresna tersenyum. Raja besar yang arif itu tahu betul
apa yang berkecamuk di dada kedua saudara seibu itu.
Tapi inilah tugasnya. Untuk mengobarkan Bharatayudha
dan menumpas bibit angkara di muka bumi. Tugas yang
harus diembannya sebagai titisan Wisnu.
Waktu di Kurusetra seakan terhenti. Para prajurit yang
ratusan ribu jumlahnya, meletakkan pedang, perisai,
dan senjata apapun yang mereka pegang untuk menonton
pertandingan akbar itu. Tidak ada yang bergerak.
Semuanya berdiri, menonton dengan perasaan tegang, dan
hati masing-masing memanjatkan doa, berharap agar
gusti mereka memenangkan pertempuran itu.
Kresna berpaling pada saudara sepupu sekaligus iparnya
itu. “Ayo Arjuna, lepas panahmu! Apa kau akan
membiarkan senja turun dan pertempuran harus berlanjut
esok?”
Arjuna menggigit bibir, mengambil sebatang panah dan
melepasnya. Karna tersenyum, melepas sebatang panah
pula untuk mengatasi panah Arjuna, kemudian dengan
sigap ia mematahkan panah itu menjadi dua.
“Arjuna! Apa hanya ini senjatamu? Mana hasil
bertapamu? Alangkah sayangnya waktu yang kaugunakan
untuk bertapa dan berguru, kalau hanya ini hasilnya!”
Karna tersenyum mengejek. Dilepasnya sebatang panah
lagi, kali ini seolah memamerkan keahliannya. Panah
itu berdesing, dan seakan berjiwa, mengarah tepat ke
dada Arjuna. Tapi kesigapan Kresna mengendarai kudanya
telah menyelamatkan lelanang ing jagad yang tengah
berkecamuk hatinya itu.
Kuda-kuda pengendara kereta itu pun seakan berubah
menjadi kuda-kuda binal yang siap menerkam siapa saja.
Langkah kaki mereka mengepulkan debu yang memperpanas
suasana Kurusetra.
Arjuna menengadah ke langit, melihat kehadiran
dewa-dewa, dewi-dewi istrinya dan segala penghuni
kahyangan yang hadir hanya untuk menyaksikannya.
Ribuan helai bunga telah mereka taburkan untuk
menambah semangat juang Arjuna, meredam gejolak
hatinya yang meningkah tajam.
Tapi yang lebih menarik perhatiannya adalah sosok
Abimanyu di kejauhan, yang di matanya terlihat
berlari-lari, memanggil-manggilnya ayah. Seakan-akan
ia mendekati ayahnya, dan membisikkan kata-kata agar
Arjuna terus maju, memenangkan pertempuran ini dan
membalaskan dendam kematiannya.
Arjuna terperangah. Tangannya telah bergerak, hendak
membelai kepala putra tertuanya. Tetapi mendadak
bayangan Abimanyu lenyap, terbawa angin yang
menerbangkan debu-debu ke atas.
“Ada apa, Arjuna?” Prabu Kresna menoleh, keheranan
melihatnya terpaku. “Tidak, Kanda. Seakan-akan tadi
saya melihat Angkawijaya disini.” Arjuna masih tak
percaya. Tatapan matanya menerawang jauh.
Prabu Kresna tertawa. “Kau lihat, Arjuna? Bahkan putra
kesayanganmu pun telah rela menjadi perantara malaikat
maut untuk membalas kematiannya.” Arjuna masih
tertunduk, raut wajahnya sulit diterka.
“Nah, kalau begitu apa yang akan kau lakukan sekarang
Arjuna? Tetap diam dan membiarkan dirimu mati konyol
ditembus panah Karna? Atau melawan dan memperoleh
kemenangan?” Prabu Kresna menatap adiknya dengan
seulas senyum di bibirnya.
Arjuna menggigit bibir sambil merapal doa. Diliriknya
sekali lagi wajah legam saudara ipar sekaligus sepupu
yang sangat ia hormati itu. Diambilnya Pasopati
andalannya, sembari bersiaga menarik temali busur.
Segenap penghuni Kurusetra menahan nafas, waktu yang
hanya beberapa detik seakan beberapa abad. Kresna
memekik keras, “Sekarang, Arjuna!”
Sesaat setelah itu, Pasopati melaju lincah, merenggut
jiwa senopati Hastinapura. Memisahkan kepala
bermahkota itu dari tubuh yang berhiaskan pakaian
kebesaran senopati. Serentak terdengar hiruk pikuk
dari barisan Pandawa maupun Kurawa. Barisan Pandawa
karena gembira, sedangkan barisan Kurawa karena sedih
dan kecewa. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi
terompet, menandakan perang hari itu telah berakhir.
Prabu Salya yang mengusiri kereta hanya termangu
memandangi tubuh menantunya tanpa kepala, sebelum
sadar apa yang harus ia lakukan. Cepat dihelanya
kereta kuda itu menuju garis belakang.
Prabu Kresna pun memacu kudanya ke garis belakang.
Siap memberikan laporan pertempuran hari itu dan
merancang strategi selanjutnya. Matanya sempat melirik
ke arah sepupunya. Arjuna tengah tertunduk dengan
tubuh bermandikan keringat. Prabu Kresna tidak
berkomentar, terus mengendarai kudanya dengan tenang.
Ia melayangkan pandangan ke langit senja itu, sedikit
terkejut karena langit yang tadi cerah mendadak gelap.
Seolah-olah turut bersedih, langit senja itu pun
menangis, mengiringi kepergian sang putra matahari.
***
Sinopsis : Musuh terkuat adalah diri sendiri, yang
selalu mengintai dan mempertanyakan tentang masa lalu
dan masa depan. Bahkan Seorang pria yang disebut-sebut
lelanang ing jagad (lelakinya dunia) pun bisa menjadi
lemah dan tak berdaya. Di Kurusetra, disaksikan jutaan
pasang mata, haruskah Arjuna takluk di tangan Karna?
Atau haruskah ia menaklukkan Karna dengan segenap
upayanya? Sementara untuk menaklukkan dirinya sendiri
pun ia tak sanggup.
courtesy of adilla (www.xxxxxxxx.com)